Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts

Tuesday, June 2, 2015

[ #NulisRandom2015 Day 01 Ngutang] Adalah Nyoba2 Nulis Cerita Ala Topik

Biru


Sebentar lagi Juli, dan tak ada tanda-tanda musim hujan berakhir, mendung tebal masih membayangi jalan ini walau gerimis barusan reda.

Warung di perempatan ini punya arti lebih buatku, ia adalah tempat dimana awal dan akhir bersatu. Semua dimulai dari warung ini. Warung ini hanya buka pada malam hari, pernah diramaikan oleh Mahasiswa-mahasiswa dari kampus sebelah, sebelum kampusnya pindah karena mereka mendadak terkenal dan biaya masuknya jadi mahal. Tapi sekarang aku hanya sendirian disini. Jika tak ada hal yang mengganggu, dia pasti juga akan datang malam ini.

Benar saja, selang beberapa menit suara khas dari Skuter Layangnya berdengung. Aku menyingkir sedikit, tak mau terlihat olehnya. Dia masuk kedalam warung, masih saja dengan rambut pendek yang membuatnya terlihat lucu. Namun kali ini ada yang berbeda, ia tak datang beramai-ramai seperti biasa, hanya dengan seorang lelaki saja.

Kamu masih saja seperti dua tahun yang lalu, biru, tak berubah bagai langit yang tak kunjung mendung. Highlight rambut biru, Dress sleeveless biru, boots biru, ditambah lipstick biru terangmu itu yang menghias senyum tanggungmu. Manis.

Aku semakin tenggelam didalam lamunanku. Caramu merapikan rambut, kedipan khas matamu ketika mengecek Smartwatch-mu itu. Desah pelanmu ketika bercanda nakal dengan lelaki barumu ini. Caramu merapikan rambut. Semua masih seperti saat kita bersama dulu, dan tanpa sadar aku menyenggol piring yang belum dicuci oleh Abang penjual.

Terkaget, kamu tiba-tiba menyahut kepada lelakimu, "Eh, kamu tau kan tempat ini katanya berhantu"

"Soal kecelakaan dua tahun lalu? Hari gini masih percaya Tahayul?" Balas si lelaki.

"Bukan percaya sih, lebih kayak err... aku pengen percaya kalo itu beneran, pengen percaya kalo hantu itu ada". Kamu terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Kamu tahu nggak, alasan sebenarnya kenapa aku selalu ke warung ini tiap malam minggu?"

"Kamu kan pernah bilang kalau warung ini penuh kenangan jaman kamu kuliah."

"Kepastian. Sebenarnya aku nyari kepastian."

"Kepastian apaan? kepastian kalo hantu itu ada?"

Kamu cuma tersenyum kecil memandangi lelakimu, sambil menaruh telunjuk diatas bibirnya."Udahlah yank, kadang aku sendiri ngerasa mungkin aku emang agak gila, pengen percaya beneran kalau hantu itu ada."

Dan hujan akhirnya turun.

Monday, June 1, 2015

[#NulisRandom2015 Day 02] Adalah Percakapan Random Disekitaran Api Unggun

"Dalam satu hal kita merdeka", Muja tiba-tiba bergumam memecah keheningan di kamp peristirahatan ini. Namun hening berlanjut lebih lama, sudah jelas gerombolan kita terlihat lelah, termasuk aku.

"Ja, aku ngerti kamu pengen nyemangatin anak-anak, tapi lebih baik kita hemat energi dan mikir gimana caranya keluar dari situasi bangsat ini", sahutku beberapa menit kemudian.

"Oke, ngerti", Muja membalasku dengan nada sangat tidak antusias. "Tapi kamu juga ngerti kan betapa bangsatnya situasi ini, kita nggak..."

"BULLSHIT ANJING." Tiba-tiba Urkhal yang biasanya tenang berteriak kesal kepada Muja sambil melempar batu kecil yang mengenai Armor Muja. "Hancur udah. Hancur mimpi gua jadi Orc pertama yang bisa ngapus stereotip Manusia soal kita. Kita sekarang cuma berandalan. Cuma sekumpulan begal. Cuma pembunuh berdarah dingin."

"Terpaksa, Khal", Balas Muja dengan nada datar. "Aku terpaksa membunuh anak kecil itu"

"TAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII LO ANJIIIIING, ARGGH. GATAU LAGI AH", Urkhal yang kesal lalu berjalan agak menjauhi kamp peristirahatan kita.

Selang beberapa lama aku mendengar geram khas Orc dari kejauhan. Geraman yang kita bunyikan ketika kita mendekati ajal. Geraman itu diikuti ratusan teriakan marah dan sinar remang obor di kejauhan. Tampaknya Warga dan Penjaga Kota telah menemukan kita.

Tak ada dari kita yang bersemangat untuk melawan, kami semua lesu memandangi Api Unggun. Tak ada gambaran khas Orc yang katanya akan terus melawan sampai akhir nyawanya. Kami juga takut mati.

Satu anak panah menembus armorku di dada. Lalu dua, tiga, empat, lalu entah berapa, aku sudah lelah menghitung, sakit. Kesadaranku pelan hilang. Beberapa temanku mencoba melawan manusia-manusia itu, tapi jelas kami kalah jumlah. Aku mengerti. Aku mengerti sekali perasaan orang tua yang anaknya dihilangkan nyawanya oleh Muja. Aku juga punya anak dan mungkin juga akan mengamuk kalau anakku dihabisi nyawanya begitu. Tapi aku yakin Muja punya pertimbangan sendiri walau aku tak mengerti apa, Otakku tak secerdas Muja yang sering mengajari kami soal filsafat hidup.

Mikho anakku, selamat tinggal. Jaga Mama baik-baik.