Monday, June 1, 2015

[#NulisRandom2015 Day 02] Adalah Percakapan Random Disekitaran Api Unggun

"Dalam satu hal kita merdeka", Muja tiba-tiba bergumam memecah keheningan di kamp peristirahatan ini. Namun hening berlanjut lebih lama, sudah jelas gerombolan kita terlihat lelah, termasuk aku.

"Ja, aku ngerti kamu pengen nyemangatin anak-anak, tapi lebih baik kita hemat energi dan mikir gimana caranya keluar dari situasi bangsat ini", sahutku beberapa menit kemudian.

"Oke, ngerti", Muja membalasku dengan nada sangat tidak antusias. "Tapi kamu juga ngerti kan betapa bangsatnya situasi ini, kita nggak..."

"BULLSHIT ANJING." Tiba-tiba Urkhal yang biasanya tenang berteriak kesal kepada Muja sambil melempar batu kecil yang mengenai Armor Muja. "Hancur udah. Hancur mimpi gua jadi Orc pertama yang bisa ngapus stereotip Manusia soal kita. Kita sekarang cuma berandalan. Cuma sekumpulan begal. Cuma pembunuh berdarah dingin."

"Terpaksa, Khal", Balas Muja dengan nada datar. "Aku terpaksa membunuh anak kecil itu"

"TAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII LO ANJIIIIING, ARGGH. GATAU LAGI AH", Urkhal yang kesal lalu berjalan agak menjauhi kamp peristirahatan kita.

Selang beberapa lama aku mendengar geram khas Orc dari kejauhan. Geraman yang kita bunyikan ketika kita mendekati ajal. Geraman itu diikuti ratusan teriakan marah dan sinar remang obor di kejauhan. Tampaknya Warga dan Penjaga Kota telah menemukan kita.

Tak ada dari kita yang bersemangat untuk melawan, kami semua lesu memandangi Api Unggun. Tak ada gambaran khas Orc yang katanya akan terus melawan sampai akhir nyawanya. Kami juga takut mati.

Satu anak panah menembus armorku di dada. Lalu dua, tiga, empat, lalu entah berapa, aku sudah lelah menghitung, sakit. Kesadaranku pelan hilang. Beberapa temanku mencoba melawan manusia-manusia itu, tapi jelas kami kalah jumlah. Aku mengerti. Aku mengerti sekali perasaan orang tua yang anaknya dihilangkan nyawanya oleh Muja. Aku juga punya anak dan mungkin juga akan mengamuk kalau anakku dihabisi nyawanya begitu. Tapi aku yakin Muja punya pertimbangan sendiri walau aku tak mengerti apa, Otakku tak secerdas Muja yang sering mengajari kami soal filsafat hidup.

Mikho anakku, selamat tinggal. Jaga Mama baik-baik.

No comments:

Post a Comment