Saturday, June 6, 2015

#NulisRandom2015 Day 6

Ujang


"Jang, lo nggak capek?", Tania menyahut sambil mengontrol walker-nya, dari tadi pemandangan kanan-kiri-depan-belakang memang hanya pasir, sesekali bukit batu.

"Mungkin emang hopeless, yah?" sahutku disebelahnya.

"Aku balik ke kapal deh, capek hh...", Tania lalu mengeluarkan communicator dari kantong enviro-suit-nya, tak lama Pesawat Angkasa berukuran raksasa terlihat terbang rendah diatas langit planet ini, dari pesawat itu keluar pesawat penjemput kecil yang dikendarai seorang pria.

"Jang, lo nggak ikut balik? udah lewat jam tugas kan ini sebenernya?", Sahut pria yang mengendarai pesawat tadi.

"Bentar lagi lah Mar, lagian kata Kapten kita ada rencana mangkal disini sampai 48 jam bumi kedepan kan".

"Hh. yaudahlah, jangan keenakan. Ntar kamu senasib kayak Rudi kita yang repot"

Tania membungkus Walker-nya, lalu dengan sigap ia masuk kedalam kursi penumpang, "Dah jeleek", sahutnya.

Aku melanjutkan perjalanan, dan akhirnya detektor di Walker-ku berbunyi. Aku menemukannya. Dengan sekali hentakan, pasir-pasir disekitaran Walker-ku seolah bergeser, dibaliknya terlihat sesuatu yang mirip pintu ke bawah tanah. Aku turun dari Walker-ku dan membukanya, didalamnya ada tangga panjang menuju entah kemana.

Aku tak bisa menahan senyumku, sebenarnya tugasku disini hanyalah mencari sisa perdaban dari bangsa alien yang konon pernah mendiami Planet ini, tapi aku tahu lebih banyak, walau Rudi lebih tahu banyak hal lagi.

Aku terus saja menuruni tangga ini, cuma ditemani lampu sorot dari communicator milikku, tampaknya satu jam sudah berlalu tapi belum juga ada tanda-tanda bahwa anak tangga ini akan berakhir.

Beberapa jam kemudian, samar-samar terdengar suara gir dan mesin uap dari bawah, tampaknya sebentar lagi aku sampai di dasar.

Anak tangga terbawah tampaknya sudah kuturuni, didepanku hanya ada lorong gelap dengan satu pintu diujungnya. Suara Gir dan Mesin Uap semakin keras. Aku membuka pintu itu, hanya untuk jatuh tersandung sesuatu.

Mataku mencoba beradaptasi dengan kondisi sekitar, ruangan ini lebih gelap dari lorong tadi, sumber cahaya hanyalah ratusan monitor yang menyala remang, tapi tak menampilkan apa-apa, seperti Televisi-Televisi di bumi jika tak mendapat sinyal. Ruangan ini dipenuhi pipa-pipa berkarat dan gir-gir raksasa yang saling bergesekan dan berdecit. Ditengah-tengah ruangan terlihat ada bayangan dua Manusia yang tampaknya sedang bermain catur.

"Skak", Suara berat tiba-tiba menggama mengisi ruangan.

"Ujang Hardiman, Bumi", suara lain menggema, ia terdengar lebih ringan dan serak. Tampaknya ia lawan main si suara berat tadi.

"Kamu terlalu meremehkan manusia."

"Kamu yang seharusnya berhati-hati."

"Sudah!." Lalu terdengar suara hentakan diikuti gema bidak-bidak catur yang berserak jatuh kebawah, tampaknya salah satu dari mereka ada yang memukul meja. "Pelayan! tolong rapikan bidak caturnya!."

Mereka berdua tampak berdiri, lalu berjalan mendekatiku. Cahaya remang dari televisi sekilas memperlihatkan kalau mereka mengenakan Toga putih bersih, seperti gambaran-gambaran sejarah soal masyarakat Yunani Kuno. Aku mencoba mendongak keatas, penasaran soal siapa mereka, tapi dengan kondisi pencahayaan seperti ini aku hanya bisa melihat gumpalan hitam diatas leher putih mereka.

Salah satu dari mereka tiba-tiba membekap mukaku erat dengan tangan dinginnya, lalu yang lain berbisik langsung ditelingaku, "Jadilah Terang".

No comments:

Post a Comment